GAJAH MADA PERANG BUBAT PDF

Ada pula Gelonggong karya Junaedi Setiyono dan Pangeran Diponegoro karya Remy Sylado yang sama-sama berlatar belakang kisah perjuangan Pangeran Diponegoro, dan masih banyak lagi novel-novel sejenis. Pada dasarnya, novel-novel fiksi ini meski berlatarbelakang sejarah Indonesia, tentu saja tidak bisa disamakan dengan buku-buku sejarah sebenarnya. Novel fiksi sejarah hanya mengambil kejadian sejarah dan mendaurnya dengan kemampuan sastrawi penulis. Dari sekian banyak novel-novel yang diterbitkan tersebut, terus terang saya tertarik dan memburu beberapa novel yang berhubungan dengan sejarah Majapahit, termasuk Seri Gajah Mada yang disebutkan diatas. Bahkan beberapa mitos berkembang setelah kejadian ini, terutama mengenai hubungan suku Jawa dan Sunda yang konon kurang harmonis sampai sekarang.

Author:Aralkis Gagor
Country:Guinea-Bissau
Language:English (Spanish)
Genre:History
Published (Last):2 October 2016
Pages:383
PDF File Size:10.81 Mb
ePub File Size:10.16 Mb
ISBN:672-9-11861-597-5
Downloads:55195
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Shakalmaran



Sebagai kelanjutan dari bagian yang pertama , maka dalam artikel ini akan sedikit diuraikan tentang beberapa hal penting yang berkaitan dengan perang Bubat, kidung Sunda atau Sudayana dan kitab Pararaton berikut dengan beberapa analisanya. Perang Bubat. Perang Bubat adalah perang yang diceritakan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit ke empat Raja Hayam Wuruk dengan mahapatihnya Gajah Mada. Perang ini melibatkan sejumlah besar pasukan kerajaan Majapahit pimpinan Mahapatih Gajah Mada melawan sekelompok kecil pasukan kerajaan Sunda pimpinan Prabu Maharaja Linggabuana, di desa pelabuhan Bubat, Jawa Timur pada abad ke pada sekitar tahun M.

Pertempuran yang sangat tidak seimbang tersebut dikisahkan dapat dimenangkan secara mutlak oleh pihak Majapahit. Pasukan kerajaan Sunda dibantai habis termasuk komandannya yang juga raja kerajaan Sunda, Prabu Maharaja Linggabuana.

Dan tidak cuma itu, permaisuri dan putri raja Sunda bernama Dyah Pitaloka Citraresmi — yang sedianya akan dinikahkan dengan raja Hayam Wuruk — ikut tewas dengan cara bunuh diri setelah meratapi mayat ayahnya. Diceritakan bahwa timbulnya perang ini akibat kesalahpahaman mahapatih Gajah Mada saat melihat raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit Sunda.

Gajah Mada menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di pelabuhan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri kerajaan Sunda kepada Majapahit. Hal ini menimbulkan perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada, dan memuncak hingga terjadi perang terbuka. Berg pada awal tahun an, beberapa versi Kidung Sunda, diantaranya Kidung Sundayana, yang merupakan versi sederhana dari versi aslinya.

Sarjana belanda itu kemudian menuliskan penemuannya tersebut dalam kedua bukunya, yaitu : C. BKI 1 — Soerakarta: De Bliksem. Uitgegeven en toegelicht. VBG Tentang Kidung Sunda. Dalam kidung ini diceritakan tentang kisah pencarian seorang permaisuri Hayam Wuruk dari Majapahit, dan tragedi perang bubat yang memilukan.

Diceritakan dalam beberapa pupuh, sebagai berikut : Pupuh I. Hayam Wuruk, raja Majapahit ingin mencari seorang permaisuri untuk dinikahi. Maka beliau mengirim utusan-utusan ke seluruh penjuru Nusantara untuk mencarikan seorang putri yang sesuai. Mereka membawa lukisan-lukisan kembali, namun tak ada yang menarik hatinya. Maka prabu Hayam Wuruk mendengar bahwa putri Sunda cantik dan beliau mengirim seorang juru lukis ke sana.

Setelah ia kembali maka diserahkan lukisannya. Saat itu kebetulan dua orang paman prabu Hayam Wuruk, raja Kahuripan dan raja Daha berada di sana hendak menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan mereka belum menikah. Kemudian prabu Hayam Wuruk menyuruh Madhu, seorang mantri ke tanah Sunda untuk melamarnya. Madhu tiba di tanah Sunda setelah berlayar selama enam hari kemudian menghadap raja Sunda.

Sang raja senang, putrinya dipilih raja Majapahit yang ternama tersebut. Tetapi putri Sunda sendiri tidak banyak berkomentar. Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak dari Sunda disertai banyak sekali iringan.

Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2. Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Sementara di Majapahit sendiri mereka sibuk mempersiapkan kedatangan para tamu. Maka sepuluh hari kemudian kepala desa Bubat datang melapor bahwa rombongan orang Sunda telah datang. Prabu Hayam Wuruk beserta kedua pamannya siap menyongsong mereka.

Tetapi patih Gajah Mada tidak setuju. Ia berkata bahwa tidaklah seyogyanya seorang maharaja Majapahit menyongsong Raja Sunda yang seharusnya menjadi raja bawahan. Siapa tahu dia seorang musuh yang menyamar. Para abdi dalem keraton dan para pejabat lainnya, terperanjat mendengar hal ini, namun mereka tidak berani melawan. Sedangkan di Bubat sendiri, mereka sudah mendengar kabar burung tentang perkembangan terkini di Majapahit. Ia disertai tiga pejabat lainnya dan serdadu.

Mereka langsung datang ke rumah Patih Gajah Mada. Di sana beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak pulang dan mengira Prabu Hayam Wuruk ingkar janji. Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vazal-vazal Nusantara Majapahit. Hampir saja terjadi pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi oleh Smaranata, seorang pandita kerajaan.

Maka berpulanglah utusan Raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan terakhir Raja Sunda akan disampaikan dalam tempo dua hari. Sementara Raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak bersedia menjadi negara bawahan Majapahit.

Maka beliau berkata memberi tahukan keputusannya untuk gugur seperti seorang ksatria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi dihina orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka akan mengikutinya dan membelanya. Kemudian Raja Sunda menemui istri dan anaknya dan menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja. Pupuh II Durma. Maka semua sudah siap siaga.

Utusan dikirim ke perkemahan orang Sunda dengan membawa surat yang berisikan syarat-syarat Majapahit. Orang Sunda pun menolaknya dengan marah dan pertempuran tidak dapat dihindarkan.

Tentara Majapahit terdiri dari prajurit-prajurit biasa di depan, kemudian para pejabat keraton, Gajah Mada dan akhirnya Prabu Hayam Wuruk dan kedua pamannya. Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit banyak yang gugur. Tetapi karena kalah jumlahnya, akhirnya hampir semua orang Sunda dibantai habisan-habisan oleh orang Majapahit.

Pitar adalah satu-satunya perwira Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara mayat-mayat serdadu Sunda. Kemudian ia lolos dan melaporkan keadaan kepada Ratu dan Putri Sunda. Mereka bersedih hati dan kemudian sesuai ajaran Hindu mereka melakukan belapati bunuh diri.

Semua istri para perwira Sunda pergi ke medan perang dan melakukan bunuh diri massal di atas jenazah-jenazah suami mereka. Pupuh III Sinom. Prabu Hayam Wuruk merasa cemas setelah menyaksikan peperangan ini. Ia kemudian menuju ke pesanggaran Putri Sunda. Tetapi Putri Sunda sudah tewas. Maka Prabu Hayam Wuruk pun meratapinya ingin dipersatukan dengan wanita idamannya ini. Setelah itu, upacara untuk menyembahyangkan dan mendoakan para arwah dilaksanakan.

Tidak selang lama, maka mangkatlah pula Prabu Hayam Wuruk yang merana. Setelah beliau diperabukan dan semua upacara keagamaan selesai, maka berundinglah kedua pamannya. Mereka menyalahkan Gajah Mada atas malapetaka ini. Maka mereka ingin menangkapnya dan membunuhnya. Kemudian bergegaslah mereka datang ke kepatihan. Saat itu patih Gajah Mada sadar bahwa waktunya telah tiba.

Maka beliau mengenakan segala upakara perlengkapan upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau menghilang moksa tak terlihat menuju ketiadaan niskala. Maka raja Kahuripan dan raja Daha, yang mirip "Siwa dan Buddha" berpulang ke negara mereka karena Majapahit mengingatkan mereka akan peristiwa memilukan yang terjadi.

Analisis cerita dalam Kidung Sunda. Berdasarkan uraian tiga pupuh di atas, penulis mencoba melakukan analisa sebagai berikut : Dalam ketiga pupuh di atas tidak disebutkan secara jelas siapakah nama Raja Sunda, Ratu Sunda dan Putri Sunda yang datang ke Majapahit tersebut.

Hal ini menyebabkan para ahli sejarah membuat suatu analogi dengan mempergunakan sumber-sumber sejarah yang lain. Analogi yang dilakukan oleh para ahli sejarah berdasarkan sumber-sumber lain tersebut bisa saja keliru atau tidak tepat. Dalam Kidung Sunda ini tidak disebutkan siapa penulis aslinya dan dimana tempat ia menuliskannya, di Jawa atau di Bali? Didalam pupuh sebelumnya disebutkan bahwa sebab-sebab meninggalnya Mahapatih Gajah Mada adalah karena sakit.

Uraian Pupuh LXX sebagai berikut " Terpaku mendengar Adimenteri Gajah Mada gering Jadi kesimpulannya adalah : Mahapatih Gajah Mada meninggal karena sakit dan bukan karena dikejar-kejar oleh kedua orang paman Raja Hayam Wuruk setelah perang Bubat.

Baginda segera bermusyawarah dengan kedua rama serta Ibunda Dengan demikian Kidung Sunda ini harusnya dianggap hanya sebagai karya sastra biasa karena tidak menyebutkan secara jelas pihak-pihak dari kerajaan Sunda , dan bukan sebuah kronik sejarah yang akurat. Orang-orang Sunda dianggap bukan orang Nusantara, kecuali oleh patih Gajah Mada. Hal ini juga sesuai dengan kakawin Nagarakretagama di mana tanah Sunda tak disebut sebagai wilayah Majapahit yang harus membayar upeti.

Dengan demikian jelas bahwa tanah Sunda bukan negara atau tanah taklukan Majapahit. Kenyataan tersebut diperkuat oleh uraian yang terdapat dalam Kitab Negarakretagama sebagai berikut : Berkaitan dengan penyebaran agama Budha diuraikan dalam Pupuh XVI sebagai berikut : " Konon kabarnya para pendeta penganut Sang Sugata ajaran Budha , dalam perjalanan mengemban perintah Baginda Nata Hayam Wuruk , dilarang menginjak tanah sebelah Barat pulau Jawa, karena penghuninya bukan penganut ajaran Budha Tanah sebelah Barat pulau Jawa identik dengan kekuasaan Kerajaan Sunda.

Berkaitan dengan negara-negara asing yang memiliki hubungan dengan kerajaan Majapahit, diuraiakan dalam Pupuh XV sebagai berikut : " Yawana ialah negara sahabat Identifikasi Yawana adalah Kerajaan Sunda sepanjang tidak ada bukti-bukti empiris lainnya.

GLEBOZNAWSTWO LENE PDF

Kritik atas Novel Fiksi-Sejarah-Deskontruksionis “Perang Bubat” Karya Aan Merdeka Permana

Shelves: historical-fiction , court-drama Oh Gajah Mada. Oh Perang Bubat. Ocehan tentang buku ini akan sangat panjang karena sebenarnya saya adalah fans seri ini dan saya punya ekspektasi tinggi terutama pada buku ini. Dari kelima buku seri Gajah Mada, buku inilah yang saya beli duluan.

AMOROSA VISIONE BOCCACCIO PDF

Gajah Mada: Perang Bubat

Barang-barang pun segera diturunkan dari kapal. Oleh para prajurit Majapahit, barang-barang itu diangkut ke bangsal paseban. Meski sudah ditegur, barang bawaan orang Sunda itu tetap disimpan di paseban. Bagaimanapun begitulah perintah yang para prajurit Majapahit itu terima. Paseban itu tempat menaruh pajak dari daerah jajahan.

DISCOURSE ANALYSIS GILLIAN BROWN GEORGE YULE PDF

Sejarah dan Penyebab Terjadinya Perang Bubat

Sebagai kelanjutan dari bagian yang pertama , maka dalam artikel ini akan sedikit diuraikan tentang beberapa hal penting yang berkaitan dengan perang Bubat, kidung Sunda atau Sudayana dan kitab Pararaton berikut dengan beberapa analisanya. Perang Bubat. Perang Bubat adalah perang yang diceritakan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit ke empat Raja Hayam Wuruk dengan mahapatihnya Gajah Mada. Perang ini melibatkan sejumlah besar pasukan kerajaan Majapahit pimpinan Mahapatih Gajah Mada melawan sekelompok kecil pasukan kerajaan Sunda pimpinan Prabu Maharaja Linggabuana, di desa pelabuhan Bubat, Jawa Timur pada abad ke pada sekitar tahun M.

DROGAS VASOATIVAS PDF

Perang Bubat

Tidak seharusnya dijadikan sentimen kesukuan, dan terlalu picik bila ini dipandang sebagai dendam kesukuan, tidak ada kaitannya, karena mungkin ini adalah proses sejarah yang bisa jadi menentukan keberadaan bangsa Indonesia masa kini. Banyak hal yang didapat dan merupakan informasi penting sebenarnya dari kitab kidung Sunda, kalau kita analisa lebih teliti. Kitab Kidung Sunda ini merupakan salah satu sumber referensi penguat adanya perang Bubat selain kitab Pararaton dan Wangsakerta, walau kitab resmi kerajaan Majapahit yaitu kitab Nagarakertagama yang sama sekali tidak menyinggung peristiwa besar itu, bahkan dalam kisah perjalanan Bujangga Manik pun tidak disinggung mengenai peristiwa Bubat ini. Penulis tidak menganalisa sumber kitab Wangsakerta, karena kitab ini baru muncul belum lama dan masih dalam proses penelitian keasliannya oleh para ahli sejarah. Hanya kitab Kidung Sunda dan kitab Pararaton yang ingin penulis ajukan untuk analisa kisah perang Bubat ini.

Related Articles