HIKAM IBN ATA ILLAH PDF

This is the first of a series of articles the interpreter has been asked to write on "traditional Islamic spirituality," a science that deals with answering this summons, lifting the heart from the narrowness of the self to the limitlessness of the knowledge and love of the Divine. One of the signs of relying on deeds is loss of hope when a misstep occurs. The practice of this knowledge, inwardly and outwardly, with heart and limbs, is the spiritual path or tariqa. Works, whether prayer, or the dhikr or "remembrance" of Allah, or fasting, or jihad, do not cause one to reach the end of the path, but are merely proper manners before the majesty of the Divine while on it. Abu Hurayra Allah be well pleased with him heard the Holy Prophet Allah bless him and give him peace say: "None of you shall be saved by his works.

Author:Yodal Fenrihn
Country:Belarus
Language:English (Spanish)
Genre:Sex
Published (Last):15 November 2006
Pages:390
PDF File Size:19.93 Mb
ePub File Size:3.25 Mb
ISBN:279-3-51166-494-5
Downloads:95666
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Tagal



Setelah semakin penasaran, saya akhirnya mencari referensi tentang Beliau, dan alhamdulillah dapatlah saya membaca kitab yang sangat terkenal karangan beliau yakni Al-Hikam.

Ia lahir di kota Alexandria Iskandariyah , lalu pindah ke Kairo. Julukan Al-Iskandari atau As-Sakandari merujuk kota kelahirannya itu. Di kota inilah ia menghabiskan hidupnya dengan mengajar fikih mazhab Imam Maliki di berbagai lembaga intelektual, antara lain Masjid Al-Azhar. Ia menimba ilmu dari beberapa syekh secara bertahap. Dalam bidang fiqih ia menganut dan menguasai Mazhab Maliki, sedangkan di bidang tasawuf ia termasuk pengikut sekaligus tokoh tarikat Al-Syadzili.

Tak kurang dari 20 karya yang pernah dihasilkannya. Meliputi bidang tasawuf, tafsir, aqidah, hadits, nahwu, dan ushul fiqh. Dari beberapa karyanya itu yang paling terkenal adalah kitab al-Hikam.

Buku ini disebut-sebut sebagai magnum opusnya. Kitab itu sudah beberapa kali disyarah. Yang terakhir ini merupakan tanggapan terhadap Syaikhul Islam ibn Taimiyyah mengenai persoalan tauhid. Kedua ulama besar itu memang hidup dalam satu zaman, dan kabarnya beberapa kali terlibat dalam dialog yang berkualitas tinggi dan sangat santun.

Ibn Taimiyyah adalah sosok ulama yang tidak menyukai praktek sufisme. Ia menjadi panutan bagi banyak orang yang meniti jalan menuju Tuhan. Menjadi teladan bagi orang-orang yang ikhlas, dan imam bagi para juru nasihat. Meski ia tokoh kunci di sebuah tarikat, bukan berarti aktifitas dan pengaruh intelektualismenya hanya terbatas di tarekat saja.

Buku-buku ibn Athaillah dibaca luas oleh kaum muslimin dari berbagai kelompok, bersifat lintas mazhab dan tarikat, terutama kitab Al Hikam yang melegenda ini. Ia berasal dari bangsa Arab. Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas.

Dengan menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun sampai H. Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami. Namun kefaqihannya terus berlanjt sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawuf. Pendapat saya waktu itu bahwa yaang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka ahli tasawwuf mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya".

Masa kedua Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil Thariqah langsung dari gurunya ini.

Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi?. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan.

Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf. Lalu aku datang ke majlisnya. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyat al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan.

Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku". Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain.

Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi. Dalam hal ini Ibn Athoilah menceritakan : "Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa.

Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian ia menghadapku dan berkata : "Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan? Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan : "Tidak demikian itu tariqah kita.

Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga". Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: "Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka". Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.

Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah". Dan berakhir dengan kepindahannya ke haribaan Yang Maha Asih pada tahun H.

Ia membedakan antara Uzlah dan kholwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan hubungan maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik orang yang uzlah selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia. Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah. Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, kholwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah SWT.

Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya.

Tugas ini ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.

Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan". Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakekat dan orang orang ahli tariqah". Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shoghoh.

Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah. Kitabnya yang paling masyhur sehingga telah menjadi terkenal di seluruh dunia Islam ialah kitabnya yang bernama Hikam, yang telah diberikan komentar oleh beberapa orang ulama di kemudian hari dan yang juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing lain, termasuklah bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.

Yang terakhir ini merupakan tanggapan terhadap Syekhul Islam ibnu Taimiyyah mengenai persoalan tauhid. Ibnu Taimiyyah adalah sosok ulama yang tidak menyukai praktek sufisme. Di antara karomah pengarang kitab al-Hikam adalah, suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibn Athoillah sedang thawaf. Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru.

Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti menjawabnya". Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa.

Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qorrofah al-Kubro.

KUCNE INSTALACIJE PDF

Sharh al-Hikam al-Ataiyyah. Commentary on Ibn Ata Allah Iskandari's Hikam

.

ASUS P5N73 AM MANUAL PDF

Kitab Al Hikam Of Ibn Ata Illah English & Arabic

.

ARVO PART PARI INTERVALLO PDF

Ahmad Ibn Ata'Illah

.

ALEJANDRA STAMATEAS LIBROS PDF

Ahmad Ibn 'Ata Allah

.

Related Articles